Taufiq Ismail, satu-satunya penyair Indonesia yang melewati semua rezim pemerintahan Indonesia. Kata kuncinya: kiprahnya yang panjang dan konsistensinya dalam melakukan perlawanan lewat puisi.
Cintanya pada bangsa, Tanah Air, dan kemanusiaan menjadikannya sosok penyair yang terlibat dalam dinamika penting sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Secara kuantitas, sejak awal kepenyairannya tahun 1950-an, sampai kini, puisi-puisi Taufiq Ismail boleh jadi sudah mencapai ribuan halaman.
Dari jumlah itu, kita dapat mencermati sikap kepenyairannya: tetap teguh, kokoh menegakkan kebenaran, keadilan, dan nilai kemanusiaan. Maka, puisi-puisi Taufiq Ismail menjadi sangat kontekstual sebagai saksi bicara zamannya.
Ada dua tempat di muka bumi yang mencekam perasaanku. Yang pertama perpustakaan dan kedua kuburan. Deretan buku di perpustakaan mewakili ilmu pengetahuan yang ditawarkan. Deretan nisan di kuburan memberi isyarat berhentinya ilmu pengetahuan.
BUKU
Lima dekade dalam karya
Dari Tirani dan Benteng, hingga Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit.
Taufiq Ismail melalui puisi-puisinya konsisten melantunkan nilai-nilai kemanusiaan. Lalu, melalui berbagai program yang digerakannya, telah mengubah citra dan pandangan masyarakat lebih memahami fungsi dan peran sastra sebagai sarana menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
MAMAN S. MAHAYANA – SASTRAWAN
Taufiq Ismail adalah penyair Indonesia yang sangat produktif dan bernapas panjang. Ia mulai berkarya tahun 1960-an hingga kini, lahir dari gejolak politik dan turun ke jalan untuk menumbangkan Orde Lama.
M. SHOIM ANWAR – SASTRAWAN DAN DOSEN UNIVERSITAS ADI BUANA SURABAYA
Karya seumur hidup, terhimpun dalam satu ruang yang tenang